Rabu, 21 Desember 2011

MAKNA FILOSOFIS VISNU PURANA


KATA PENGANTAR
Atas asung wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, kami dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “MAKNA FILOSOFIS CERITA SAGARA DALAM VISNU PURANA” dengan tepat waktu. Mudah-mudahan dengan adanya karya tulis ini, kita semua dapat memetik makna filosofis dari cerita Sagara dan memaknai setiap cerita yang disampaikan serta mengamalkan apa yang baik pada ajarannya.
Kami menyadari sepenuhnya, bahwa karya tulis ini sangat jauh dari kata sempurna. Semoga apa yang disampaikan dan yang disajikan dari karya tulis ini kita mampu memberikan informasi atau bahan untuk belajar bagi para pembaca semua.
Kami juga mengharapkan agar pembaca menyumbangkan pemikirannya, kritik yang konstruktif agar karya tulis ini menjadi lengkap isinya.
Akhirnya kita sebagai penyusun mengucapkan banyak terima kasih, semoga pemikiran yang baik datang dari semua arah.



Jakarta, Desember 2011

Ttd



Penyusun








ISI RESUME
SAGARA
Ada banyak raja sakti dalam garis keturunan Mandhata. Salah satunya adalah Purukusta yang berhasil mengalahkan para Gandharva dan menolong para naga di sungai Narmada.
Dalam dinasty yang sama , lahir juga seorang raja yang bergelar Vahu. Vahu sangat senang mengumpulkan kekayaan dan tidak lagi menghiraukan kerajaannya hingga musuh-musuhnya memanfaatkan hal ini untuk mengalahkan dan menyingkirkannya. Maka Vahu dan kedua istrinya melarikan diri kehutan. Vahu meninggal karena shock nasibnya berubah sangat drastis. Istri Vahu yang pertama bernama Yadavi dan istri yang kedua sangat iri terhadap Yadavi dan berusaha untuk membunuhnya dengan menggunakan racun. Namun anehnya racun itu tidak memberikan efek apapun pada tubuh Yadavi. Ketika melihat Vahu meninggal, Yadavi berusaha menceburkan diri ke api pembakaran Vahu namun rsi Ourva berhasil mencegahnya dan menasehatinya. Setelah mendengar bahwa didalam perutnya terdapat anak yang kelak akan menjadi penguasa dan melakukan berbagai jenis acara kurban, maka Yadavi mengurungkan niatnya dan tinggal di pertapaan rsi Ourva.
Setelah beberapa lama kemudian, lahirlah seorang putra dan rsi Ourva menamainya Sagara. Beliau mengajarkan Veda, sastra dan seni berperang. Setelah dewasa, ia berhasil mengalahkan musuh-musuh ayahnya dan menjadi pemimpin di seluruh dunia.
Raja Sagara memiliki dua orang istri, Sumati dan Kesini. Kedua permaisuri ini memohon kepada rsi Ourva agar bisa memiliki keturunan. Dan rsi Ourva memenuhi permintaannya dan menjanjikan bahwa salah satu dari mereka akan mempunyai satu orang anak saja dan yang satu memiliki 60.000 anak. Kesini memiliki satu orang putra bernama Asmanja dan Sumati memiliki 60.000 anak. Namun anak-anak itu mulai menampakkan sifat jahatnya. Para deva menghadap rsi Kapila dan memintannya untuk menyelamatkan dunia dari tingkah laku anak-anak Sagara.
Saat Raja Sagara melakukan upacara Asvamedha dan putra-putranya menjadi pelindung kuda-kuda persembahan itu. Salah satu kuda lepas dan melarikan diri. Maka Raja Sagara mengutus anak-anaknya untuk mencari kuda tersebut, namun kuda itu berlari ke alam bawah tanah dan di tempat itu pula duduklah rsi Kapila. Mereka mnyimpulkan bahwa rsi Kapila lah yang mengambil kuda tersebut dan mereka menyerang rsi Kapila. Rsi itu menjadi murka, dari sorot matanya mengeluarkan api yang mahabesar membakar habis 60.000 anak itu menjadi abu.
Beberapa waktu berlalu, Asamanja memiliki putra bernama Amsumana. Raja Sagara mengutus Amsumana untuk mencari paman-pamannya yang sudah lama tidak kembali. Amsumana menemui rsi Kapila dan memohon kepada sang rsi. Rsi Kapila berkenan pada anak itu dan memberikan sebuah anugerah. Amsumana meminta agar semua pamannya bisa mencapai surga.
Amsumana kemudian memiliki seorang putra bernama Dilipa. Dilipa memiliki anak bernama Bhagiratha. Dan Bhagiratha inilah yang membawa sungai Ganga turun sampai ke alam bawah bumi. Sungai Ganga disebut juga Bhagirathi.

KAJIAN FILOSOFIS
Dalam cerita Sagara ini kita dapat memetik filosofisnya, diantaranya adalah :
-        Seperti sifat Raja Vahu yang sangat senang akan kekayaan, sesungguhnya kekayaan itu sifatnya hanya sementara. Mencari dan memiliki Artha bukanlah sesuatu yang dilarang, malahan sesuatu yang dianjurkan. Asal semuanya itu diperoleh dengan jalan Dharma dan dipergunakan untuk kepentingan Dharma. Ajaran Agama Hindu menegaskan, bahwa Artha sebenarnya bukanlah tujuan , namun hanya sarana untuk mencapai tujuan. Harta yang diperoleh atau dimiliki harus dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

1.       Sadhana ri kasiddhan in dharma
Artinya di pakai untuk memenuhi dharma, contohnya dana punia, melaksanakan pancayajna dll.
2.       Sadhana ri kasiddhan in kama
Artinya dipakai untuk memenuhi keinginan atau hawa napsu (kama), contohnya kesenian, olah raga,dll.
3.       Sadhana ri kasiddhan in artha
Artinya dipakai untuk mendapatkan harta kembali, contohnya memproduksi sesuatu, kegiatan ekonomi, dll.
Seperti yang disebutkan pada mantra Atharva Veda III.18.3 sebagai berikut:
“satahasta samahara sahasrahasta sam kira, krtasya karya sya ceha sphatim samavaha” artinya Oh umat manusia, kumpulkanlah kekayaan dengan seratus tangan (bekerja keras) dan setelah engkau peroleh, dermakanlah kekayaan itu dengan seribu tanganmu.
Dalam Ajaran Agama Hindu berkali-kali ditekankan bahwa harta kekayaan itu tidak akan dibawa mati. Yang meringankan dan menuntun kita pergi ke akhirat adalah perbuatan baik atau buruk kita. Seperti halnya Raja Vahu, setelah kehilangan harta kekayaannya beliau meninggal dunia karena shock melihat semua yang telah dimilikinya telah hilang. Maka dari itu, sebaiknya kita jangan bangga akan kekayaan yang dimiliki sebelum kita melakukan kewajiban kita dalam mengelola Artha itu dengan baik, agar Artha yang kita miliki tersebut mempunyai nilai yang utama.
-        Istri Raja Vahu yang kedua sangat iri hati kepada Yadavi.  Disini, istri kedua sang Raja Vahu tidak bisa mengendalikan Matsarya dengan baik. Matysarya adalah iri hati yang terkadung dalam Sad Ripu, yakni enam musuh yang ada dalam diri manusia. Sikap iri hati ini muncul bila seseorang tidak mau menerima jika mengetahui orang lain sukses atau bahagia. Bila orang yang sedang iri hati berusaha meracuni seseorang merupakan sesuatu hal yang bisa dilakukan. Pada dasarnya sifat iri ini bisa dihilangkan bila kita mau bekerja keras untuk mengendalikannya, seperti mengikuti kegiatan yang berguna, menumbuhkan sifat menerima apa yang sudah dijalankan untuk kita, mempunyai sifat menyayangi dan memiliki kepada orang dekat kita, merasa bahagia bila orang tersebut bahagia atau sukses. Sejatinya bila kita mampu ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain kita akan terjauh dari sifat tersebut.
-        Raja Sagara adalah raja yang sangat ideal, dia mampu melakukan asta brata dengan baik. Asta Brata artinya delapan ajaran utama tentang kepemimpinan yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada Bharata (adiknya) yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Asta Brata disimbulkan dengan sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin, yaitu :
1.       Indra Brata
Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.
2.       Yama Brata
Pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama, yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
3.       Surya Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
4.       Candra Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.
5.       Vayu Brata (maruta)
Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
6.       Bhumi (Danada)
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya.
7.       Varuna Brata
Pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.
8.       Agni Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.
Selain itu juga melakukan banyak upacara persembahan seperti Asvamedha. Disebutkan “ saha yajnah prajah srstva purovaca prajapatih, snena prasavisyadhvam esa vo’stv ista kamadhuk” (Bhagavadgita III.10) yang artinya “Pada awal trciptanya alam semesta Tuhan Yang Maha Esa menciptakannya atas dasar Yajna (cinta kasih dan pengorbanan yang tulus) selanjutnya bersabda :”Dengan yajna engkau berkembang biak dan jadikanlah bumi ini menjadi sapi perahanmu”. Sosok Raja atau pemimpin yang sangat langka di temukan di jaman Kali Yuga seperti saat ini. Sangat ironis memang, karena sosok raja atau pemimpin yang seperti itu sangat dinanti di jaman sekarang agar kehidupan suatu kerajaan atau negara aman, tertib dan sejahtera.
-        Perilaku anak-anak Sagara yang menuduh dan menyerang rsi Kapila hanya karena kuda yang akan dipersembahkan oleh Sagara lari dan berada disekitar rsi Kapila duduk. Dan hal ini menimbulkan kemarahan rsi Kapila yang mengakibatkan celakanya anak-anak Sagara. Sebaiknya kita tidak boleh menuduh orang sembarangan karena akan menimbulkan celaka bagi kita sendiri dan juga akan membuat orang tersebut sakit hati serta tersinggung. Bila kita menuduh orang, sebaiknya kita menyertakan bukti-bukti yang ada. Agar permasalahannya selesai tanpa menimbulkan sakit hati atau dendam.
-        Amsumana yang mampu menyenangkan hati rsi Kapila karena sikapnya yang baik dan sang rsi juga memberikan anugerah kepada Amsumana, dan Amsumana menggunakan anugerah itu untuk paman-pamannya yang telah terbakar menjadi abu agar mereka semua masuk sorga. Sungguh hal yang sangat mulia bagi seorang ksatria seperti Amsumana. Dia tidak memikirkan diri sendiri namun memikirkan kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Karena jika kita melihat orang bahagia, kita juga akan bahagia, begitulah seharusnya yang kita lakukan sebagi umat pada masa ini. Merasa senasib, saling menolong, bersaudara antara satu dengan yang lain, niscaya kehidupan akan semakin indah dan diberkati oleh Sang Hyang Widhi Wasa.

KESIMPULAN
Dari meteri diatas dapat disumpulkan bahwa, kita sebaiknya tidak mempunyai sifat seperti Raja Vahu. Demi memperoleh kekayaan, dia lupa akan kewajibanya menjadi seorang raja. Mencari serta mempergunakan Artha dengan baik sesuai ajaran Dharma. Jangan menganggap bahwa Artha adalah segalanya karena orang mati yang dibawa bukanlah Artha yang dimilikinya namun baik atau buruk perbuatannya. Menghilangkan sifat iri hati akan kebahagiaan atau sesuatu yang sudah dicapai oleh orang yang ada disekitar kita. Dengan rasa memiliki, cinta kasih akan menekan sifat iri hati yang ada di diri kita. Sebagai pemimpin yang baik adalah mampu mengamalkan ajaran Astabrata dengan baik sesuai nasihat Sang Rama kepada adiknya Baratha. Selain itu sebagai seorang pemimpin kita juga tidak boleh lupa akan sang pencipta, melakukan upacara persembahan akan melindungi kehidupan di suatu wilayah atau kerajaan tersebut. Tidak menuduh orang dengan tanpa bukti yang jelas akan membawa bencana bagi kita, serta rela berkorban untuk orang-orang yang kita sayangi akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang yang melakukan perbuatan yang sangat mulia tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
-        Sanjaya, Gede Oka. Visnu Purana. Surabaya : Paramitha.2001
-        Debroy, Bibek dan Debroy, Dipavali. Vayu Purana. Surabaya : Paramitha. 2001
-        Ngurah, I Gusti Made. Buku Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Paramitha. 2006