KATA
PENGANTAR
Atas
asung wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, kami dapat
menyelesaikan karya tulis yang berjudul “MAKNA FILOSOFIS CERITA SAGARA DALAM
VISNU PURANA” dengan tepat waktu. Mudah-mudahan dengan adanya karya tulis ini,
kita semua dapat memetik makna filosofis dari cerita Sagara dan memaknai setiap
cerita yang disampaikan serta mengamalkan apa yang baik pada ajarannya.
Kami
menyadari sepenuhnya, bahwa karya tulis ini sangat jauh dari kata sempurna. Semoga
apa yang disampaikan dan yang disajikan dari karya tulis ini kita mampu
memberikan informasi atau bahan untuk belajar bagi para pembaca semua.
Kami
juga mengharapkan agar pembaca menyumbangkan pemikirannya, kritik yang
konstruktif agar karya tulis ini menjadi lengkap isinya.
Akhirnya
kita sebagai penyusun mengucapkan banyak terima kasih, semoga pemikiran yang
baik datang dari semua arah.
|
|
Jakarta,
Desember 2011
Ttd
Penyusun
|
ISI RESUME
SAGARA
Ada banyak raja sakti dalam garis
keturunan Mandhata. Salah satunya adalah Purukusta yang berhasil mengalahkan
para Gandharva dan menolong para naga di sungai Narmada.
Dalam dinasty yang sama , lahir
juga seorang raja yang bergelar Vahu. Vahu sangat senang mengumpulkan kekayaan
dan tidak lagi menghiraukan kerajaannya hingga musuh-musuhnya memanfaatkan hal
ini untuk mengalahkan dan menyingkirkannya. Maka Vahu dan kedua istrinya
melarikan diri kehutan. Vahu meninggal karena shock nasibnya berubah sangat
drastis. Istri Vahu yang pertama bernama Yadavi dan istri yang kedua sangat iri
terhadap Yadavi dan berusaha untuk membunuhnya dengan menggunakan racun. Namun
anehnya racun itu tidak memberikan efek apapun pada tubuh Yadavi. Ketika
melihat Vahu meninggal, Yadavi berusaha menceburkan diri ke api pembakaran Vahu
namun rsi Ourva berhasil mencegahnya dan menasehatinya. Setelah mendengar bahwa
didalam perutnya terdapat anak yang kelak akan menjadi penguasa dan melakukan
berbagai jenis acara kurban, maka Yadavi mengurungkan niatnya dan tinggal di
pertapaan rsi Ourva.
Setelah beberapa lama kemudian,
lahirlah seorang putra dan rsi Ourva menamainya Sagara. Beliau mengajarkan
Veda, sastra dan seni berperang. Setelah dewasa, ia berhasil mengalahkan
musuh-musuh ayahnya dan menjadi pemimpin di seluruh dunia.
Raja Sagara memiliki dua orang
istri, Sumati dan Kesini. Kedua permaisuri ini memohon
kepada rsi Ourva agar bisa memiliki keturunan. Dan rsi Ourva memenuhi
permintaannya dan menjanjikan bahwa salah satu dari mereka akan mempunyai satu
orang anak saja dan yang satu memiliki 60.000 anak. Kesini memiliki satu orang putra bernama Asmanja dan Sumati memiliki 60.000 anak. Namun anak-anak itu mulai
menampakkan sifat jahatnya. Para deva menghadap rsi Kapila dan memintannya
untuk menyelamatkan dunia dari tingkah laku anak-anak Sagara.
Saat Raja Sagara melakukan
upacara Asvamedha dan putra-putranya
menjadi pelindung kuda-kuda persembahan itu. Salah satu kuda lepas dan
melarikan diri. Maka Raja Sagara mengutus anak-anaknya untuk mencari kuda
tersebut, namun kuda itu berlari ke alam bawah tanah dan di tempat itu pula
duduklah rsi Kapila. Mereka mnyimpulkan bahwa rsi Kapila lah yang mengambil
kuda tersebut dan mereka menyerang rsi Kapila. Rsi itu menjadi murka, dari
sorot matanya mengeluarkan api yang mahabesar membakar habis 60.000 anak itu
menjadi abu.
Beberapa waktu berlalu, Asamanja
memiliki putra bernama Amsumana. Raja Sagara mengutus Amsumana untuk mencari
paman-pamannya yang sudah lama tidak kembali. Amsumana menemui rsi Kapila dan
memohon kepada sang rsi. Rsi Kapila berkenan pada anak itu dan memberikan
sebuah anugerah. Amsumana meminta agar semua pamannya bisa mencapai surga.
Amsumana kemudian memiliki
seorang putra bernama Dilipa. Dilipa memiliki anak bernama Bhagiratha. Dan
Bhagiratha inilah yang membawa sungai Ganga turun sampai ke alam bawah bumi.
Sungai Ganga disebut juga Bhagirathi.
KAJIAN FILOSOFIS
Dalam cerita Sagara ini kita
dapat memetik filosofisnya, diantaranya adalah :
-
Seperti sifat Raja Vahu yang sangat senang akan
kekayaan, sesungguhnya kekayaan itu sifatnya hanya sementara. Mencari dan
memiliki Artha bukanlah sesuatu yang dilarang, malahan sesuatu yang dianjurkan.
Asal semuanya itu diperoleh dengan jalan Dharma dan dipergunakan untuk
kepentingan Dharma. Ajaran Agama Hindu menegaskan, bahwa Artha sebenarnya
bukanlah tujuan , namun hanya sarana untuk mencapai tujuan. Harta yang
diperoleh atau dimiliki harus dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.
Sadhana ri kasiddhan in dharma
Artinya di pakai untuk memenuhi dharma, contohnya dana
punia, melaksanakan pancayajna dll.
2.
Sadhana ri kasiddhan in kama
Artinya dipakai untuk memenuhi keinginan atau hawa
napsu (kama), contohnya kesenian, olah raga,dll.
3.
Sadhana ri kasiddhan in artha
Artinya dipakai untuk mendapatkan harta kembali,
contohnya memproduksi sesuatu, kegiatan ekonomi, dll.
Seperti yang
disebutkan pada mantra Atharva Veda III.18.3 sebagai berikut:
“satahasta samahara sahasrahasta sam kira,
krtasya karya sya ceha sphatim samavaha” artinya Oh umat manusia, kumpulkanlah kekayaan dengan seratus tangan (bekerja
keras) dan setelah engkau peroleh, dermakanlah kekayaan itu dengan seribu
tanganmu.
Dalam Ajaran
Agama Hindu berkali-kali ditekankan bahwa harta kekayaan itu tidak akan dibawa
mati. Yang meringankan dan menuntun kita pergi ke akhirat adalah perbuatan baik
atau buruk kita. Seperti halnya Raja Vahu, setelah kehilangan harta kekayaannya
beliau meninggal dunia karena shock melihat semua yang telah dimilikinya telah
hilang. Maka dari itu, sebaiknya kita jangan bangga akan kekayaan yang dimiliki
sebelum kita melakukan kewajiban kita dalam mengelola Artha itu dengan baik,
agar Artha yang kita miliki tersebut mempunyai nilai yang utama.
-
Istri Raja Vahu yang kedua sangat iri hati
kepada Yadavi. Disini, istri kedua sang
Raja Vahu tidak bisa mengendalikan Matsarya dengan baik. Matysarya adalah iri
hati yang terkadung dalam Sad Ripu, yakni enam musuh yang ada dalam diri
manusia. Sikap iri hati ini muncul bila seseorang tidak mau menerima jika mengetahui
orang lain sukses atau bahagia. Bila orang yang sedang iri hati berusaha
meracuni seseorang merupakan sesuatu hal yang bisa dilakukan. Pada dasarnya
sifat iri ini bisa dihilangkan bila kita mau bekerja keras untuk
mengendalikannya, seperti mengikuti kegiatan yang berguna, menumbuhkan sifat
menerima apa yang sudah dijalankan untuk kita, mempunyai sifat menyayangi dan
memiliki kepada orang dekat kita, merasa bahagia bila orang tersebut bahagia
atau sukses. Sejatinya bila kita mampu ikut merasakan apa yang dirasakan oleh
orang lain kita akan terjauh dari sifat tersebut.
-
Raja Sagara adalah raja yang sangat ideal, dia
mampu melakukan asta brata dengan baik. Asta Brata artinya delapan ajaran utama
tentang kepemimpinan yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada Bharata (adiknya)
yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Asta Brata disimbulkan dengan
sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap
pemimpin, yaitu :
1.
Indra Brata
Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu
senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya
dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.
2.
Yama Brata
Pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama,
yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi
mengayomi masyarakat.
3.
Surya Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti
Matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan
yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
4.
Candra Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan
yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam
kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh
simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.
5.
Vayu Brata (maruta)
Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di
tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah
untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
6.
Bhumi (Danada)
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi
yaitu teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk
kesejahteraan masyarakatnya.
7.
Varuna Brata
Pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu
memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik,
penuh kearifan dan kebijaksanaan.
8.
Agni Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu
mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan
tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.
Selain itu
juga melakukan banyak upacara persembahan seperti Asvamedha. Disebutkan “ saha
yajnah prajah srstva purovaca prajapatih, snena prasavisyadhvam esa vo’stv ista
kamadhuk” (Bhagavadgita III.10) yang
artinya “Pada awal trciptanya alam
semesta Tuhan Yang Maha Esa menciptakannya atas dasar Yajna (cinta kasih dan
pengorbanan yang tulus) selanjutnya bersabda :”Dengan yajna engkau berkembang
biak dan jadikanlah bumi ini menjadi sapi perahanmu”. Sosok Raja atau
pemimpin yang sangat langka di temukan di jaman Kali Yuga seperti saat ini.
Sangat ironis memang, karena sosok raja atau pemimpin yang seperti itu sangat
dinanti di jaman sekarang agar kehidupan suatu kerajaan atau negara aman,
tertib dan sejahtera.
-
Perilaku anak-anak Sagara yang menuduh dan menyerang
rsi Kapila hanya karena kuda yang akan dipersembahkan oleh Sagara lari dan
berada disekitar rsi Kapila duduk. Dan hal ini menimbulkan kemarahan rsi Kapila
yang mengakibatkan celakanya anak-anak Sagara. Sebaiknya kita tidak boleh
menuduh orang sembarangan karena akan menimbulkan celaka bagi kita sendiri dan
juga akan membuat orang tersebut sakit hati serta tersinggung. Bila kita
menuduh orang, sebaiknya kita menyertakan bukti-bukti yang ada. Agar
permasalahannya selesai tanpa menimbulkan sakit hati atau dendam.
-
Amsumana yang mampu menyenangkan hati rsi Kapila
karena sikapnya yang baik dan sang rsi juga memberikan anugerah kepada
Amsumana, dan Amsumana menggunakan anugerah itu untuk paman-pamannya yang telah
terbakar menjadi abu agar mereka semua masuk sorga. Sungguh hal yang sangat
mulia bagi seorang ksatria seperti Amsumana. Dia tidak memikirkan diri sendiri
namun memikirkan kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Karena jika kita
melihat orang bahagia, kita juga akan bahagia, begitulah seharusnya yang kita
lakukan sebagi umat pada masa ini. Merasa senasib, saling menolong, bersaudara
antara satu dengan yang lain, niscaya kehidupan akan semakin indah dan
diberkati oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
KESIMPULAN
Dari meteri diatas dapat
disumpulkan bahwa, kita sebaiknya tidak mempunyai sifat seperti Raja Vahu. Demi
memperoleh kekayaan, dia lupa akan kewajibanya menjadi seorang raja. Mencari
serta mempergunakan Artha dengan baik sesuai ajaran Dharma. Jangan menganggap
bahwa Artha adalah segalanya karena orang mati yang dibawa bukanlah Artha yang
dimilikinya namun baik atau buruk perbuatannya. Menghilangkan sifat iri hati
akan kebahagiaan atau sesuatu yang sudah dicapai oleh orang yang ada disekitar
kita. Dengan rasa memiliki, cinta kasih akan menekan sifat iri hati yang ada di
diri kita. Sebagai pemimpin yang baik adalah mampu mengamalkan ajaran Astabrata
dengan baik sesuai nasihat Sang Rama kepada adiknya Baratha. Selain itu sebagai
seorang pemimpin kita juga tidak boleh lupa akan sang pencipta, melakukan
upacara persembahan akan melindungi kehidupan di suatu wilayah atau kerajaan
tersebut. Tidak menuduh orang dengan tanpa bukti yang jelas akan membawa
bencana bagi kita, serta rela berkorban untuk orang-orang yang kita sayangi
akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang yang melakukan perbuatan yang
sangat mulia tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
-
Sanjaya, Gede Oka. Visnu Purana. Surabaya : Paramitha.2001
-
Debroy, Bibek dan Debroy, Dipavali. Vayu Purana. Surabaya : Paramitha. 2001
-
Ngurah, I Gusti Made. Buku Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya :
Paramitha. 2006